TUGAS PERTEMUAN KE-6 PENGAWASAN PROYEK
1. Jenis jenis kerusakan pada pekerjaan beton bertulang dan upaya penanganan terkait kerusakan tersebut (minimal 10 jenis kerusakan yang terjadi pada pekerjaan beton bertulang)
Dalam istilah dunia konstruksi, kita mengenal beton bertulang. Beberapa jenis beton ini menggunakan reinforced concrete maupun prestressed concrete yang menggunakan baja untuk strukturnya. Meskipun dalam pelaksanaan proses konstruksi sudah dilakukan dengan sebaik mungkin, namun terkadang kerusakan kecil bahkan besar bisa saja terjadi.
Seringkali, kerusakan yang terjadi pada beton bertulang tidak dapat dihindarkan dikarenakan banyak faktor, seperti faktor alam yang tak bisa dicegah maupun faktor kimiawi. Lebih jelasnya, berikut ini akan dibahas beberapa penyebab kerusakan dan juga cara mengatasinya:
Kerusakan yang sering terjadi dalam beton bertulang
Pada umumnya, kerusakan yang terjadi dibagi menjadi beberapa kategori, yakni:
1. Retak (cracks)
Retak merupakan kejadian pecah pada beton, berupa garis-garis panjang yang sempit. Retak ini biasa terjadi akibat cuaca yang panas dan berangin. Jenis kerusakan ini sifatnya dangkal dan saling berhubungan. Kerusakan akibat keadaan alam pada beton dengan steel structure (reinforced concrete) maupun prestressed concrete memang seringkali tidak bisa dihindari. Dengan penanganan yang tepat, kerusakan ini tidak akan menimbulkan permasalahan berarti bagi konstruksi.
Retak merupakan kejadian pecah pada beton, berupa garis-garis panjang yang sempit. Retak ini biasa terjadi akibat cuaca yang panas dan berangin. Jenis kerusakan ini sifatnya dangkal dan saling berhubungan. Kerusakan akibat keadaan alam pada beton dengan steel structure (reinforced concrete) maupun prestressed concrete memang seringkali tidak bisa dihindari. Dengan penanganan yang tepat, kerusakan ini tidak akan menimbulkan permasalahan berarti bagi konstruksi.
2. Lubang-lubang pada beton bertulang (void)
Voids merupakan istilah untuk menggambarkan kondisi kerusakan pada beton bertulang, berupa lubang-lubang yang ukurannya relatif dalam dan lebar. Penyebabnya ialah proses pemadatan yang dilakukan dengan vibrator yang kurang maksimal dan terlalu sempitnya jarak antara bekisting dengan tulangan atau frame. Yang sering terjadi adalah jarak antar tulang yang terlalu sempit hingga mortar tidak bisa mengisi rongga atau pori-pori antara agregat kasar dengan sempurna.
Voids merupakan istilah untuk menggambarkan kondisi kerusakan pada beton bertulang, berupa lubang-lubang yang ukurannya relatif dalam dan lebar. Penyebabnya ialah proses pemadatan yang dilakukan dengan vibrator yang kurang maksimal dan terlalu sempitnya jarak antara bekisting dengan tulangan atau frame. Yang sering terjadi adalah jarak antar tulang yang terlalu sempit hingga mortar tidak bisa mengisi rongga atau pori-pori antara agregat kasar dengan sempurna.
3. Kelupasan dangkal pada permukaan (scalling/ erosion/spalling)
Kelupasan dangkal pada permukaan beton bertulang merupakan jenis kerusakan yang umum terjadi. Penyebabnya ialah adanya eksposisi yang berulang terhadap proses pembekuan dan pencairan hingga permukaan beton bisa terkelupas (scalling).
Ada pula jenis kerusakan lain yang menyebabkan permukaan beton terkelupas, yakni spalling, yakni melekatnya material di permukaan bekisting yang menyebabkan permukaan beton terkelupas.
Kelupasan dangkal pada permukaan beton bertulang merupakan jenis kerusakan yang umum terjadi. Penyebabnya ialah adanya eksposisi yang berulang terhadap proses pembekuan dan pencairan hingga permukaan beton bisa terkelupas (scalling).
Ada pula jenis kerusakan lain yang menyebabkan permukaan beton terkelupas, yakni spalling, yakni melekatnya material di permukaan bekisting yang menyebabkan permukaan beton terkelupas.
4. Lekatan baja beton
Inilah jenis kerusakan lain yang umum terjadi pada beton bertulang. Kerusakan ini sering terjadi pada komponen struktur penunjang bangunan sipil. Perlu diketahui bahwa lekatan dipengaruhi oleh tingkat kekasaran sebuah permukaan baja dan kualitas beton di sekitar bagian tulangan. Jika kelekatan gagal terjadi atau kurang sempurna, maka akan membuat menurunnya daya dukung pada struktur. Hal ini bsia menyebabkan deformasi. Yang lebih parah bisa menyebabkan runtuhnya struktur konstruksi.
Penyebab lain dari kegagalan kelekatan ialah adanya korosi pada tulangan, terjadinya kebakaran, atau bisa jadi karena terlalu tipisnya selimut beton.
Inilah jenis kerusakan lain yang umum terjadi pada beton bertulang. Kerusakan ini sering terjadi pada komponen struktur penunjang bangunan sipil. Perlu diketahui bahwa lekatan dipengaruhi oleh tingkat kekasaran sebuah permukaan baja dan kualitas beton di sekitar bagian tulangan. Jika kelekatan gagal terjadi atau kurang sempurna, maka akan membuat menurunnya daya dukung pada struktur. Hal ini bsia menyebabkan deformasi. Yang lebih parah bisa menyebabkan runtuhnya struktur konstruksi.
Penyebab lain dari kegagalan kelekatan ialah adanya korosi pada tulangan, terjadinya kebakaran, atau bisa jadi karena terlalu tipisnya selimut beton.
5. Adanya serangan kimia
Beberapa bahan kimia digunakan dalam proses konstruksi beton tulangan, baik steel structure maupun baja. Seperti penggunaan fly ash pada campuran beton yang berpotensi bisa memberi pengaruh pada beton terutama pada lingkungan bersulat. Selain itu, adanya tegangan internal bisa juga terjadi akibat dari mengembangnya unsur kimia tertentu pada beton, seperti Ca (OH)2 dengan unsur kimia penyerang.
Beberapa bahan kimia digunakan dalam proses konstruksi beton tulangan, baik steel structure maupun baja. Seperti penggunaan fly ash pada campuran beton yang berpotensi bisa memberi pengaruh pada beton terutama pada lingkungan bersulat. Selain itu, adanya tegangan internal bisa juga terjadi akibat dari mengembangnya unsur kimia tertentu pada beton, seperti Ca (OH)2 dengan unsur kimia penyerang.
6. Penurunan pondasi
Pada sebagian konstruksi, kondisi tanah kurang mendukung untuk bangunan yang kokoh dan berkualitas. Beberapa kasus yang terjadi ialah daya dukung tanah tidak seragam pada sebagian lingkungan bangunan. Hal inilah yang menjadikan perbedaan dan penurunan pondasi. Sedangkan komponen yang sering rusak ialah pada dinding pengisi.
Pada sebagian konstruksi, kondisi tanah kurang mendukung untuk bangunan yang kokoh dan berkualitas. Beberapa kasus yang terjadi ialah daya dukung tanah tidak seragam pada sebagian lingkungan bangunan. Hal inilah yang menjadikan perbedaan dan penurunan pondasi. Sedangkan komponen yang sering rusak ialah pada dinding pengisi.
Menghindari kerusakan pada beton tentu terdengar agak mustahil, tetapi anda bisa meminimalisir kerusakan. Bagaimana caranya? Anda harus mengetahui penyebab kerusakan pada beton agar bisa meminimalisir kerusakan. Beberapa hal yang biasa menjadi penyebab kerusakan pada beton adalah sebagai berikut:
7. Penggunaan vibrator yang salah menjadi salah satu penyebab utama kerusakan pada beton. Anda bisa memaksimalkan penggunaan vibrator tapi hanya untuk proses pemadatan sesuai dengan aturan yang berlaku.
8. Tinggi jatuh pengecoran, untuk menghindari kerusakan ini anda bisa melakukan pembatasan tinggi jatuh pengecoran 2-4 feet dan jatuhkan campuran secara vertikal.
9. Kesalahan pembesian, pastikan anda sudah melakukan pemeriksaan terhadap tulangan sebelum melakukan pemasangan bekisting. Lakukan pemasangan sesuai SNI agar tidak terjadi masalah di kemudian hari.
10. Kesalahan pelepasan bekisting, dalam hal ini anda harus mendapat persetujuan dari pihak kontraktor dengan melihat hasil uji kuat tekan.
11. Dilatasi pengecoran, untuk hal ini seharusnya pengecoran dilakukan selapis demi selapis. Jangn terlalu tebal (maksimal 500 mm) dan pastikan tebalnya tidak melebihi panjang batang penggetar.
12. Kegagalan design, pastikan bahwa desain struktur sudah sesuai dengan rencana awal. Pengecekan awal dan berkala selama proses konstruksi dilakukan sangat penting untuk menghindari kegagalan design yang menyebabkan beton rusak.
13. Kesalahan saat proses curing, untuk mencegah hal ini anda harus mengikuti semua ketentuan yang berlaku dalam SNI tentang lama curing dan bagaimana cara curing yang benar.
14. Beban tambahan yang tidak sesuai, agar tidak terjadi anda bisa berdiskusi terlebih dahulu dengan pihak konsultan perencana. Jika terpaksa ada penambahan beban, maka perkuatan struktur harus dilakukan terlebih dahulu.
15. Faktor cuaca, untuk semua jenis beton, penyebab kerusakan berupa faktor cuaca seringkali tidak bisa dihindari. Namun dengan penanganan yang tepat maka konstruksi tidak akan terganggu.
Perkuatan pada beton bertulang
Untuk mengatasi kerusakan yang terjadi pada beton bertulang baik dengan structur besi maupun baja, maka harus dimulai dengan tahap pemilihan bahan perkuatan yang baik dan tepat.
Pemilihan material ini merupakan persyaratan wajib untuk perbaikan yang tahan lama. Salah satu solusi untuk perkuatan ini ialah dengan material yang bersifat cementitious yang jadi pilihan terbaik untuk perkuatan beton yang rusak.
Pada kondisi tertentu, juga disyaratkan bahwa perkuatan harus mencakup pula ketahanan terhadap serangan bahan kimia hingga terkadang material lain dipilih dengan pertimbangan tersebut. Jadi, material perbaikan bersifat fleksibel sesuai kebutuhan dan sesuai dengan kerusakan yang terjadi.
Beberpa pertimbangan untuk memilih material perkuatan ialah: kemudahan perbaikan, pembiayaan, seberapa terampil pekerja dalam memperbaiki, serta peralatan yang dimiliki untuk perbaikan.
Syarat-syarat yang harus ada dalam material perbaikan
· Memiliki stabilitas dimensional
Salah satu syarat utama untuk memilih materi perkuatan pada beton ialah adanya lekatan yang sempurna dan maksimal antara material yang baru dan beton yang rusak.
Sering kali yang terjadi ialah adanya kerusakan pada kelekatan akibat perubahan dimensional yang diakibatkan oleh penyusutan. Sehingga material yang dipakai untuk perbaikan haruslah bebas susut ataupun jika mengalami penyusutan tidak akan merusak lekatan pada beton yang lama.
Salah satu syarat utama untuk memilih materi perkuatan pada beton ialah adanya lekatan yang sempurna dan maksimal antara material yang baru dan beton yang rusak.
Sering kali yang terjadi ialah adanya kerusakan pada kelekatan akibat perubahan dimensional yang diakibatkan oleh penyusutan. Sehingga material yang dipakai untuk perbaikan haruslah bebas susut ataupun jika mengalami penyusutan tidak akan merusak lekatan pada beton yang lama.
· Koefisien ekspansi thermal
Perlu diketahui bahwa semua material dalam konstruksi akan mengalami ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan temperatur udara di lingkungan. Perubahan yang terjadi tergantung pada koefisien ekspansi thermal material tertentu. Misalnya, untuk beton, koefisien ekspansi thermal adalah 0,000006 hingga 0,000012 cm per derajat celcius.
Maka dari itu, pemilihan material untuk perkuatan beton bertulang harus dipilih dengan tepat. Jika komposisi dari dua material dengan koefisien thermal jauh berbeda dan mengalami perubahan temperatur maka akan mengakibatkan kerusakan pada beton bertulang berupa garis lekatan.
Perlu diketahui bahwa semua material dalam konstruksi akan mengalami ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan temperatur udara di lingkungan. Perubahan yang terjadi tergantung pada koefisien ekspansi thermal material tertentu. Misalnya, untuk beton, koefisien ekspansi thermal adalah 0,000006 hingga 0,000012 cm per derajat celcius.
Maka dari itu, pemilihan material untuk perkuatan beton bertulang harus dipilih dengan tepat. Jika komposisi dari dua material dengan koefisien thermal jauh berbeda dan mengalami perubahan temperatur maka akan mengakibatkan kerusakan pada beton bertulang berupa garis lekatan.
· Modulus elastisitas
Istilah di atas untuk menggambarkan ukuran kekakuan pada sebuah material. Suatu bahan atau material dengan modulus elastisitas yang tinggi tidak akan mengalami deformasi sebanyak material dengan modulus elastisitas rendah, terutama ketika menerima beban.
Istilah di atas untuk menggambarkan ukuran kekakuan pada sebuah material. Suatu bahan atau material dengan modulus elastisitas yang tinggi tidak akan mengalami deformasi sebanyak material dengan modulus elastisitas rendah, terutama ketika menerima beban.
Dengan demikian, pemilihan material juga harus mempertimbangkan aspek ini, dimana jika dua material dengan modulus elastisitas berbeda berada dalam satu kontak maka bisa menyebabkan material dnengan modulus elastisitas rendah akan meleleh, melengkung atau menggelembung jika menerima beban. Selain itu, susut atau pergerakan thermal yang terjadi pun dapat menyebabkan beton kehilangan lekatan.
Jenis-jenis bahan perkuatan beton bertulang
Sesuai dengan syarat di atas, maka ada beberapa jenis material yang bisa diaplikasikan untuk perkuatan beton bertulang, yakni:
1. Material yang bersifat cementitious
Material yang satu ini dalam digunakan untuk perbaikan beton dengan bantuan admixture yang bisa menghasilkan sifat kohesif, capaian kekuatan cepat, dan daya tahan terhadap susut.
Material perbaikan dalam jenis ini adalah:
· Beton, grout, mortar yang diaplikasikan untuk mengganti total penampang.
· Mortar dan beton dengan modifikasi tertentu, yakni penambahan latex untuk melapisi kembali permukaan lantai bangunan atau jembatan saat ada kerusakan.
· Grout, mortar, dan beton yang telah melalui penambahan polimer.
· Dry pack, yakni mortar berbahan dasar semen portland yang tidak akan mengalami
· Shotcrete/ sprayed concrete/ sprayed mortar, dibuat dari bahan-bahan sama seperti pembentuk beton (semen, air, agregat).
2. Material berbahan dasar resin
Pembuatan material ini atas dasar epoxy resin, yakni resin untuk injeksi. Ada yang terdiri dari pasir halus, ada pula yang dicampur dengan agregat kasar berukuran kecil.
3. Elastomeric sealants
Material ini digunakan untuk memperbaiki retak yang mengalami pergerakan cukup signifikan. Ada dua tipe yang bisa digunakan, yakni hot-applied dan cold applied.
4. Silicones
Material ini digunakan untuk perkuatan apabila ada masalah uap air melalui dinding. Larutan silicone di semprotkan pada didining hingga silicon resin tertinggal dalam pori dinding dan mencegah kerusakan.
5. Bentonite
Material bubuk dari debu vulkanik ini dapat mengabsorbsi air dengan jumlah banyak sehingga efektif digunakan sebagai penghalang air.
6. Bituminous coating
Material berbahan dasar berupa aspal yang diaplikasikan untuk perlindungan terhadap pelapukan pada beton atau waterproofing.
7 Untuk kerusakan retak-retak, perbaikan bisa dilakukan dengan injeksi menggunakan epoxy/resin atau produk lain yang khusus untuk injeksi beton.
8 Kerusakan retak cukup lebar dan beton pecah namun tulangan masih baik, perbaikan beton dapat dilakukan dengan cara beton dibersihkan dan dikasarkan kemudian di grouting ulang.
9 Jika kerusakan sudah serius maka cara perbaikan yang bisa dilakukan adalah menambah ketebalan pelat. Penebalan pelat bisa dilakukan pada sisi bawah pelat. Yang perlu diperhatikan dalam penebalan plat adalah dipastikan kelekatan beton lama dan baru bekerja dengan baik.
8 Kerusakan retak cukup lebar dan beton pecah namun tulangan masih baik, perbaikan beton dapat dilakukan dengan cara beton dibersihkan dan dikasarkan kemudian di grouting ulang.
9 Jika kerusakan sudah serius maka cara perbaikan yang bisa dilakukan adalah menambah ketebalan pelat. Penebalan pelat bisa dilakukan pada sisi bawah pelat. Yang perlu diperhatikan dalam penebalan plat adalah dipastikan kelekatan beton lama dan baru bekerja dengan baik.
10.Pada beton bagian dalam mengalami spalling atau rusak, namun tulangan tidak rusak. Cara perbaikan beton dengan grouting. Grouting adalah memberikan campuran adukan beton dengan bahan khusus dengan mutu tinggi.
11 Beton pecah disertai dengan disertai buckling pada tulangan. Cara perbaikan dilakukan dengan tulangan yang buckling dipotong dan diganti tulangan baru dan diberi sengkang, lalu di grouting/cor beton mutu tinggi. Alternatif lain bisa diberi perkuatan sengkang, grouting dan jacketting atau pembesaran ukuran kolom beton.
11 Beton pecah disertai dengan disertai buckling pada tulangan. Cara perbaikan dilakukan dengan tulangan yang buckling dipotong dan diganti tulangan baru dan diberi sengkang, lalu di grouting/cor beton mutu tinggi. Alternatif lain bisa diberi perkuatan sengkang, grouting dan jacketting atau pembesaran ukuran kolom beton.
2. Jenis jenis kerusakan pada pekerjaan lapisan campuran beraspal dan jelaskan upaya penanganan terkait kerusakan tersebut ( minimal 10 jenis kerusakan yang terjadi pada pekerjaan lapisan campuran beraspal)
Kegiatan perekonomian sangat didukung dengan tersedianya prasarana jalan. Jalan yang baik memperlancar hubungan antara berbagai daerah. Sebaliknya, jalan yang rusak pastinya akan menghambat kegiatan ekonomi dan bisa menjadi penyebab terjadinya kecelakaan. Kerusakan jalan memang menjadi salah satu masalah di Indonesia yang seringkali terjadi terutama di jalan-jalan dengan volume lalu lintas yang padat. Berikut ini jenis-jenis kerusakan jalan aspal, penyebab dan solusinya.
1. Retak lelah dan deformasi pada semua lapisan perkerasan aspal
Jenis kerusakan jalan aspal yang berupa retak lelah dan deformasi di hampir semua lapisan jalan ini terutama bisa ditemui di jalan-jalan antar provinsi. Penyebabnya tak lain banyaknya kendaraan berat yang lalu lalang seperti bus dan truk. Beban kendaraan yang berat mengakibatkan di setiap lapisan perkerasan terjadi regangan dan tegangan. Beban kendaraan yang terus melintas pada akhirnya membuat munculnya retak lelah serta deformasi.
Jika retak lelah dan deformasi dibiarkan saja, maka ketika musim hujan bisa dipastikan air akan masuk ke dalam retakan dan mengubah retakan menjadi lubang yang semakin lama semakin besar. Karena itu sebaiknya begitu terjadi retak lelah dan deformasi, perbaikan harus segera dilakukan dengan penambalan-penambalan.
Jalan-jalan dengan perkerasan aspal sesungguhnya tidak cocok dilalui oleh jenis-jenis kendaraan berat. Kendaraan berat sebaiknya diarahkan untuk melintasi jalan-jalan beton yang memiliki struktur lebih kuat dibandingkan jalan-jalan dengan perkerasan aspal.
2. Retak
Ada berbagai jenis retak yang bisa terjadi pada jalan perkerasan aspal, antara lain retak kulit buaya, retak pinggir, retak sambungan bahu, retak refleksi, retak susut, dan retak slip. Salah satu faktor terbesar penyebab retak tersebut adalah buruknya sistem drainase jalan. Karena itu, solusinya tak cukup hanya dengan menambal retakan-retakan yang ada. Sistem drainase perlu dibangun sehingga jenis kerusakan yang sama tidak terjadi lagi.
Sistem drainase yang baik untuk perkerasan jalan aspal harus bisa membuang atau mengalirkan air dengan cepat ke saluran drainase buatan ataupun ke sungai. Sistem drainase ini juga harus mampu membuang air hujan atau air dari sumber-sumber lainnya dan mengendalikan air bawah tanah yang bisa menyebabkan erosi atau kelongsoran. Sistem drainase yang sudah dibangun harus benar-benar terawat dan berfungsi. Sistem drainase perlu dibersihkan secara berkala dari sampah dan rumput agar tetap bisa mengalirkan air dengan lancar.
Idealnya, pembangunan jalan dengan perkerasan jalan aspal harus disertai pula dengan pembangunan sistem drainase. Jika tidak, bisa dipastikan kerusakan jalan aspal tak bisa dihindari. Dalam membangun sistem drainase jalan, ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan antara lain, kondisi topografi sepanjang jalan untuk menentukan bentuk dan kemiringan yang mempengaruhi aliran air, analisa curah hujan maksimum dalam satu tahun pada daerah di area jalan aspal, dan perencanaan sistem drainase agar tidak mengganggu drainase yang telah ada.
3. Distorsi
Distorsi atau perubahan bentuk pada perkerasan jalan aspal bisa terjadi dikarenakan tanah dasar yang lemah dan pemadatan yang kurang optimal di lapisan pondasi. Distorsi yang terjadi pada jalan aspal bisa berupa amblas, jembul, keriting dan alur.
Kerusakan jalan aspal berupa distorsi tidak cukup diperbaiki hanya dengan melakukan penambalan saja. Perbaikan kerusakan distorsi terbilang cukup rumit dan memakan waktu yang tak sebentar. Distorsi pada jalan perkerasan aspal sebaiknya diperbaiki dengan menggaruk kembali, dipadatkan kembali, lalu dilakukan penambahan lapisan permukaan baru.
Tahap pemadatan pada proses pembangunan jalan memang harus dilakukan dengan cermat. Pemadatan wajib dilakukan untuk meningkatkan kekuatan tanah, memperkecil pengaruh air terhadap tanah dan memperkecil daya rembesan air pada tanah. Tahap pemadatan ini dilakukan lapisan demi lapisan sehingga diperoleh kepadatan yang ideal.
Tahap pemadatan ini umumnya menggunakan alat bantu. Contohnya saja penggilas three wheel roller atau penggilas Mac Adam dengan bobot antara 6 ton hingga 12 ton yang digunakan untuk memadatkan material berbutir kasar, tandem roller dengan bobot antara 8 ton sampai dengan 14 ton yang berfungsi untuk mendapatkan permukaan lapisan yang agak halus, dan pneumatik tired roller yang cocok dipakai untuk penggilasan tanah lempung, pasir dan bahan yang granular.
4. Kegemukan
Kerusakan kegemukan yang dimaksudkan berupa permukaan jalan aspal yang menjadi licin. Kerusakan ini terjadi saat temperatur naik sehingga aspal menjadi lunak dan jejak roda kendaraan akan membekas pada permukaan lapisan jalan. Kerusakan yang disebut kegemukan ini biasanya terjadi pada jalan aspal yang menggunakan kadar aspal tinggi pada campuran aspal atau dikarenakan pemakaian aspal yang terlalu banyak pada tahapan prime coat. Kerusakan jenis ini biasanya dapat diatasi dengan menghamparkan atau menaburkan agregat panas yan kemudian dipadatkan. Atau bisa juga dilakukan pengangkatan lapisan aspal dan lantas diberi lapisan penutup.
5. Lubang-lubang
Kerusakan jalan aspal berupa lubang-lubang dapat terjadi ketika retakan-retakan dibiarkan tanpa perbaikan sehingga akhirnya air meresap dan membuat rapuh lapisan-lapisan jalan. Lubang-lubang yang awalnya kecil ini bisa berkembang menjadi lubang-lubang berukuran besar yang dapat membahayakan pengguna jalan.
Lubang-lubang pada jalan aspal tersebut bisa diperbaiki dengan membersihkan lubang-lubang terlebih dahulu dari air serta dari material-material yang lepas. Setelah itu bongkar lapisan permukaan dan pondasi sedalam mungkin agar bisa mencapai lapisan yang paling kokoh. Barulah kemudian tambahkan lapisan pengikat atau tack coat. Lantas isi dengan campuran aspal dengan cermat. Padatkan lapisan campuran aspal tersebut dan haluskan permukaannya sehingga sama rata dengan permukaan jalan lainnya.
Lubang-lubang jalan aspal yang ditambal tanpa dibersihkan atau dibongkar terlebih dahulu hanya akan menghasilkan tambalan yang rapuh. Akibatnya lubang kembali terjadi hanya beberapa saat setelah penambalan dilakukan.
6. Pengausan
Kerusakan pengausan ditandai dengan permukaan jalan aspal yang menjadi licin. Kerusakan ini sepertinya terlihat sepele, padahal kenyataannya kerusakan ini bisa membahayakan pengguna jalan. Kendaraan yang melintas menjadi lebih mudah tergelincir pada kondisi jalan seperti ini.
Pengausan dapat terjadi dikarenakan penggunaan agregat yang tidak tahan aus terhadap roda-roda kendaraan atau agregat yang tidak berbentuk cubical, misalnya agregat berbentuk bulat dan licin. Kerusakan semacam ini bisa diatasi dengan menutup area permukaan jalan aspal yang rusak dengan buras, latasir atau latasbun.
7. Stripping
Kerusakan stripping atau pengelupasan lapisan permukaan dapat terjadi dikarenakan kurangnya ikatan antara lapisan bawah jalan dan lapisan permukaan, atau lapisan permukaan yang terlampau tipis. Untuk kerusakan seperti ini, langkah perbaikan yang bisa dilakukan bukanlah dengan penambalan melainkan bagian yang rusak terlebih dahulu harus digaruk, kemudian diratakan. Barulah setelah itu dilapisi dengan buras.
Jenis – jenis kerusakan perkerasan lentur (aspal), umumnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Deformasi: bergelombang, alur, ambles, sungkur, mengembang, benjol dan turun.
2) Retak: memanjang, melintang, diagonal, reflektif, blok, kulit buaya, dan bentuk bulan sabit, halus, susut.
3) Kerusakan di pinggir perkerasan: pinggir retak/pecah dan bahu turun.
4) Kerusakan tekstur permukaan: butiran lepas, kegemukan, agregat licin dan stripping.
5) Kerusakan lubang
6) Tambalan dan Galian Utilitas
7) Persilangan jalan rel.
8) Erosi Jet Blast
9) Tumpahan Minyak
10) Konsolidasi atau Gerakan Tanah Pondasi
A. Deformasi
Deformasi yaitu perubahan permukaan jalan dari profil aslinya merupakan kerusakan penting karena mempengaruhi kualitas kenyamanan lalu lintas, dan mencerminkan kerusakan struktur perkerasan. Mengacu pada AUSTROADS (1987) dan Shahnin (1994) beberapa tipe deformasi perkerasan Lentur adalah :
1. Bergelombang / keriting (Corrugation)
Keriting atau bergelombang adalah kerusakan akibat terjadinya deformasiplastis yang menghasilkan gelombang-gelombang melintang atau tegak lurus arah perkerasan. Biasa terjadi pada lokasi dimana lalu lintas sering bergerak dan berhenti atau saat kendaraan mengerem pada turunan, belokan tajam atau persimpangan. Gelombang-gelombang terjadi pada jarak yang relatif teratur, dengan panjang kerusakan kurang dari 3 m di sepanjang perkerasan.
Faktor Penyebab dari adanya kerusakan
a.Aksi lalu lintas dan permukaan perkerasan atau lapis pondasi yang tidak stabil karena kadar aspal terlalu tinggi
b.agregat halus terlalu banyak, agregat berbentuk bulat dan licin, semen aspal terlalu lunak, kadar air terlalu tinggi
c.Kadar air dalam lapis pondasi granuler (granular base) terlalu tinggi, sehingga tidak stabil.
Resiko lanjutannya
a. Area yang mengalami keriting meluas
b. Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan
Data yang diperlukan untuk perbaikan yaitu
a.Kedalaman maksimum di bawah straight-edge, panjang 1,2 in,
b.Jarak dari puncak ke puncak gelombang keriting,
c.Panjang perkerasan yang dipengaruhi kerusakan tersebut.
Untuk cara penanganannya
a.Menambal di seluruh kedalaman.
b.Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan lapisan tipis perawat permukaan, maka permukaan dikasarkan, kemudian dicampur dengan material pondasi, dan dipadatkan lagi sebelum meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing).
c.Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan pondasi melebihi 50 mm, keriting dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas (pavement milling machine), diikuti dengan lapis tambahan (overlay) dari campuran aspal panas 1-1MA (hot mix) agar struktur perkerasan lebih kuat.
2.Alur (rutting)
Alur adalah deformasi permukaan perkerasan aspal dalam bentuk turunnya perkerasan ke arah memanjang pada lintasan roda kendaraan akibat beban lalu lintas yang berulang pada lintasan road sejajar dengan as jalan, biasanya baru tampak jelas saat hujan. Gerakan ke atas perkerasan dapat timbul di sepanjang pinggir alur. Alur biasanya banyak nampak jelas ketika hujan dan terjadi genangan air di dalamnya. Menurut Asphalt Institute MS-17, sebab-sebab terjadiya alur adalah disebabkan oleh pemadatan (deformasi tanah dasar) atau perpindahan campuran aspal yang tidak stabil.
Faktor Penyebab kerusakan yaitu
a.Pemadatan lapis permukaan dan pondasi (base) kurang, sehingga akibat beban lalu lintas lapis pondasi memadat lagi.
b.Kualitas campuran aspal rendah, ditandai dengan gerakan arah lateral dan ke bawah dari campuran aspal di bawah beban roda berat
c.Gerakan lateral dari satu atau lebih dari komponen pembentuk lapis perkerasan yang kurang padat. Contoh terjadinya alur pada lintasan roda yang disebabkan oleh deformasi dalam lapis pondasi atau tanah-dasar
d.Tanah-dasar lemah atau agregat pondasi (base) kurang tebal, periadatan atau terjadi pelemahan akibat infiltrasi air tanah agregat pondasi (base) kurang tebal, dan infiltrasi air tanah.
Resiko lanjutan
a.Terjadi kenaikan perkerasan secara berlebihan di sepanjang sisi alur.
b.Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
c.Alur apabila diuenangi air, selain kerusakan lebih meluas, juga dapat mengakibatkan kecelakaan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a.Kedalaman maksimum dibawah straight-edge yang panjangnya 1,2 m, dan dipasang melintang.
b. Panjang alur.
Cara penanganannya yaitu
a. Seluruh kedalaman atau penambahan lapis tambahan (overlay) campuran aspal panas (hot mix) dengan perataan dan pelapisan permukaan. Perbaikan alur dengan menambal permukaan, umumnya hanya untuk perbaikan sementara.
b.Jika penyebabnya adalah lemahnya lapis pondasi (base) atau tanah-dasar, pembangunan kembali perkerasan secara total mungkin diperlukan, ternasuk juga penambahan drainase, terutama jika air menjadi salah satu faktor penyebab kerusakan.
3.Amblas (depressions)
Amblas adalah penurunan perkerasan yang terjadi pada area terbatas yang mungkin dapat diikuti dengan retakan penurunan. Ditandai dengan adanya genangan air pada pemiukaan perkerasan yang membahayakan lalu-lintas yang lewat diukur dengan straightedge.
Faktor penyebab kerusakan
a.Beban lalu-lintas berlebihan.
b.Penurunan sebagian dari perkerasan akibat lapisan di bawah perkerasan mengalami penurunan.
Cara penanganannya yaitu
a. Perawatan permukaan (surface treatment) atau micro surfacing.
b. Untuk area kerusakan yang besar, perbaikan dapat dilakukan dengan menambal kulitnya (permukaan), atau menambal pada seluruh kedalaman.
. Sungkur (shoving)
Sungkur adalah perpindahan permanen secara lokal dan memanjang dari permukaan perkerasan yang disebabkan oleh beban lalu lintas. Karena saat lalu lintas mendorong perkerasan, timbul gelombang pendek di permukaannya. Sungkur melintang dapat timbul oleh gerakan lalu lintas membelok. Sungkur biasa terjadi pada perkerasan aspal yang berbatasan dengan perkerasan beton semen portland perkerasan beton bertambah panjang oleh kenaikan suhu dan menekan perkerasan aspal.
Faktor penyebab kerusakan
a. Stabilitas campuran lapisan aspal rendah. Kurangnya stabilitas campuran dapat disebabkan oleh terlalu tingginya kadar aspal,terlalu banyaknya agregat halus, agregat berbentuk bulat dan licin atau terlalu lunaknya semen aspal.
b. Terlalu banyaknya kadar air dalam lapis pondasi granuler(granular base).
c. Ikatan antara lapisan perkerasan tidak bagus
d. Tebal perkerasan kurang.
Resiko lanjutan
a. Area yang mengalami sungkur meluas.
b. Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
c. Memicu terjadinya retakan dan air masuk ke dalam perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Kedalaman maksimum cembungan diukur dari puncaknya, dengan menggunakan straight-edge yang panjangnya 1,2 m.
b. Luas kerusakan.
Cara perbaikan
a. Perbaikan yang paling baik dilakukan dengan menambal di seluruh kedalaman.
b. Jika perkerasan mempunyai agregat pondasi (base) dengan perawat permukaan tipis, kasarkan permukaan, campur dengan material agregat pondasi, dan padatkan sebelum meletakkan lapisan permukaan kembali (resurfacing).
c. Jika perkerasan mempunyai tebal permukaan aspal dan lapis pondasi 50 mm, sungkur dangkal dapat dibongkar dengan mesin pengupas (pavement milling machine), yang diiikuti dengan lapis tambahan campuran aspal panas (hot mix) agar memberikan kekuatan yang cukup pada perkerasan.
5. Mengembang (swell)
Pengembangan adalah gerakan lokal ke atas dari perkerasan akibat pengembangan (pembekuan air) dari tanah dasar atau dari bagian struktur perkerasan. Perkerasan yang naik akibat tanah dasar yang mengembang ini dapat menyebabkan retaknya permukaan aspal. Pengembangan dapat dikarakteristikkan dengan gerakan perkerasan aspal, dengan panjang gelombang > 3 m.
Faktor penyebab kerusakan
a. Mengembangnya material lapisan di bawah perkerasan atau tanah-dasar.
b. Tanah dasar perkerasan mengembang, bila kadar air naik. Umumnya, hal ini terjadi bila tanah pondasi berupa lempung yang intidali mengembang (lempung montmordlonite) oleh kenaikan kadar air.
Resiko lanjutan
a. Mengurangi kenyamanan dan membahayakan keselamatan kendaraan.
b. Memicu terjadinya retakan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Ketinggian maksimum cembungan diukur dari puncaknya, dengan menggunakan straight-edge yang panjangnya 1.2 m atau lebih.
b. Luas kerusakan.
Cara perbaikan
a. Menambal di seluruh kedalaman
b. Pembongkaran total area yang rusak dan menggantikannya dengan material baru.
c. Perataan permukaan dengan cara menimbunnya dengan material baru.
d. Sembarang cara, untuk perbaikan pennanen, pada prinsipnya harus ditujukan untuk menstabilkan kadar air dalam struktur perkerasan.
6. Tonjolan dan turun (hump and sags)
Tonjolan adalah gerakan atau perpindahan ke atas, bersifat lokal dan kecil dari permukaan perkerasan aspal. Sags adalah gerakan ke bawah dari permukaan perkerasan. Bila perpindahan terjadi dalam area yang luas, disebuh swelling. Benjol mempunyai pola tegak lurus arah lalu lintas. Kerusakan benjol tidak sama dengan sungkur, di mana kerusakan sungkur diakibatkan oleh perkerasan yang tidak stabil. Jika benjolan nampak mempunyai pola tegak lurus arah lalu-lintas dan berjarak satu sama lain kurang dari 10 ft (3 m), maka kerusakannya disebut keriting (corrugation).
Faktor penyebab kerusakan
a. Tekukan atau penggembungan dari perkerasan pelat beton di bagian bawah yang diberi lapis tambahan (over/ay) dengan aspal.
b. Kenaikan oleh pembekuan es (lensa-lensa es).
c. Infiltrasi dan penumpukan material dalam retakan yang diikuti dengan pengaruh beban lalu-lintas
Resiko lanjutan
a. Mengurangi kenyamanan dan keselamatan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Benjol dan penurunan diukur panjang dan tingginya.
Cara perbaikan
a. Cold mill.
b. Penambalan dangkal, parsial atau di seluruh kedalaman.
c. Pelapisan tambahan (overlay).
B. Retak (Crack)
Retak dapat terjadi dalam berbagai bentuk. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor dan melibatkan mekanisme yang kompleks. Secara teoritis, retak dapat terjadi bila tegangan taik yang terjadi pada lapisan aspal melampui tegangan tarik maksimum yang dapat ditahan oleh perkerasan tersebut. Misalnya, retak cleh kelelahan (fatigue) terjadi akibat tegangan tank berulang-ulang akibat beban lalu-lintas. Perkerasan yang kurang kuat tidak mempunyai tahanan terhadap tegangan tarik yang tinggi. Mengacu pada AUSTROADS (1987), retak pada perkerasan lentur dapat dibedakan menurut bentuknya yaitu :
1. Retak memanjang (longitudinal craks)
Retak berbentuk memanjang pada perkerasan jalan, dapat terjadi dalam bentuk tunggal atau berderet yang sejajar dan kadang-kadang sedikit bercabang. Retak memanjang dapat terjadi oleh labilnya lapisan pendukung dari struktur perkerasan. Retak memanjang dapat timbul oleh akibat beban maupun bukan. Retak yang bukan akibat beban, misalnya oleh akibat adanya sambungan pelaksanaan ke arah memanjang.
Faktor penyebab kerusakan
a. Gerakan arah memanjang oleh akibat kurangnya gesek internal dalam lapis pondasi (base) atau tanah-dasar, sehingga lapisan tersebut kurang stabil.
b. Adanya perubahan volume tanah di dalam tanah-dasar oleh gerakan vertikal.
c. Penurunan tanah urug atau bergeraknya lereng timbunan. Lebar celah bisa mencapai 6 mm, sehingga memungkinkan adanya infiltrasi air dari permukaan.
d. Adanya penyusutan semen pengikat pada lapis pondasi (base) atau tanah-dasar.
e. Kelelahan (fatigue) pada lintasan roda.
f. Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau kurangnya pemadatan.
Resiko lanjutan
a. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
b. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
c. Retak dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Lebar retak yang dominan.
b. Panjang retak yang dominan.
c. Jarak retakan.
d. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
a. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
2. Retak melintang (transverse cracks)
Retak melintang merupakan retakan tunggal (tidak bersambungan satu sama lain) yang melintang perkerasan. Perkerasan, retak ketika temperatur atau lalu-lintas menimbulkan tegangan dan regangan yang melampaui kuat tarik atau kelelahan dari campuran aspal padat. Retak macam ini biasanya berjarak yang mendekati sama. Retak melintang akan terjadi biasanya berjarak lebar, yaitu sekitar 15 - 20 m. Dengan berjalannya waktu, retak melintang berkembang pada interval jarak yang Iebih pendek. Retak awalnya nampak sebagai retak rambut, danakan semakin lebar dengan berjalannya waktu.
Faktor penyebab kerusakan
a. Penyusutan bahan pengikat pada lapis pondasi dan tanah-dasar.
b. Sambungan pelaksanaan atau retak susut (akibat temperature rendah atau pengerasan) aspal dalam permukaan.
c. Kegagalan struktur lapis pondasi.
d. Pengaruh tegangan termal (akibat perubahan suhu) atau kurangnya pemadatan.
Resiko lanjutan
a. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
b. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
c. Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Lebar retak yang dominan.
b. Panjang retak yang dominan.
c. Jarak retakan.
d. Luas dacrah kerusakan.
Cara perbaikan
a. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
3. Retak diagonal (diagonal cracks)
Retak diagonal adalah retakan yang tidak bersambungan satu sama lain yang arahnya diagonal terhadap perkerasan.
Faktor penyebab kerusakan
a. Refleksi dari retak susut atau sambungan pada material pengikat yang berada di bawahnya [umumya beton semen portland, lapis pondasi rekat (cemented base) dan lapis pondasi aspal (asphalt base)].
b. Terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau bangunan.
c. Desakan akar pohon-pohonan.
d. Pemasangan bangunan layanan umum.
Resiko lanjutan
a. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan
b. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
c. Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Lebar retak yang dominan.
b. Panjang retak yang dominan.
c. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
a. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya secara pendekatan, tingkat kerusakan perkerasan
4. Retak Berkelok-kelok (Meandering Cracks)
Retak berkelok-kelok adalah retak yang tidak saling berhubungan, polanya tidak teratur, dan arahnya bervariasi biasanya sendiri-sendiri
Faktor penyebab kerusakan
a. Penyusutan material di bawah material rekat atau material butiran halus tertentu.
b. Pelunakan tanah di pinggir perkerasan akibat kenaikan kelembaban,atau terjadi beda penurunan antara timbunan, galian atau struktur
c. Pengaruh akar tumbuh-tumbuhan.
Resiko lanjutan
a. Mengganggi kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
b. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
c. Retakan dengan celah yang terlalu besar memungkinkan air masuk ke lapis pondasi dan tanah-dasar, sehingga melemahkan lapisan pendukung perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Lebar retak yang dominan.
b. Panjang retak yang dominan.
c. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
a. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya
. Retak reflektif sambungan (joint reflective cracks)
Kerusakan ini umumnya terjadi pada permukaan perkerasan aspal yang telah dihamparkan di atas perkerasan beton semen portland (Portland Cement Concrete, PCC). Retak terjadi pada lapis tambahan (overlay) aspal yang mencerminkan pola retak dalam perkerasan beton lama yang berada di bawahnya. Jadi, retakan ini terjadi pada lapis tambahan dalam perkerasan aspal, di mana retak pada lapisan lama belum sempurna diperbaiki Pola retak dapat ke arah memanjang, melintang, diagonal atau membentuk blok. Retak reflektif pada sambungan tidak termasuk retak reflektif dari lapis pondasi (stabilisasi kapur atau semen). Retakan ini dapat disebabkan oleh perubahan suhu atau kelembaban yang mengakibatkan pelat beton di bawah lapisan aspal bergerak. Jadi, retak semacam ini bukan dari akibat pengaruh beban lalu-lintas. Namun, beban lalu-lintas dapat memecahkan permukaan aspal disekitar retakan. Jika perkerasan menjadi terpecah-pecah di sepanjang retakan, maka retak ini disebut gompal (spoiling).
Faktor penyebab kerusakan
a. Gerakan vertikal atau horizontal pada lapisan dibawah lapis tambahan, yang timbul akibat ekspansi dan kontraksi saat terjadi perubahan temperatur atau kadar air.
b. Gerakan tanah pondasi.
c. Hilangnya kadar air dalam tanah-dasar yang kadar lempungnya tinggi.
Resiko lanjutan
a. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
b. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Lebar retak yang dominan.
b. Panjang retak yang dominan.
c. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
a. Perbaikan atau penutupan retakan didasarkan pada ukuran dan tingkat kerusakannya.
6. Retak blok (block cracks)
Retak blok ini berbentuk blok-blok besar yang saling bersambuitgan, dengan ukuran sisi blok 0,20 sampai 3 meter, dan dapat membentuk sudut atau pojok yang tajam. Kerusakan ini bukan karena beban lalu-lintas. Kesulitan sering terjadi untuk membedakan apakah retak blok disebabkan oleh perubahan volume di dalam campuran aspal atau di dalam lapis pondasi (base) atau tanah-dasar. Retak blok biasanya terjadi pada area yang luas pada perkerasan aspal, tapi kadang-kadang hanya terjadi pada area yang jarang dilalui lalu-lintas. Tipe kerusakan ini, berbeda dengan retak kulit buaya yang bentuknya lebih kecil, dan lebih banyak pecahan-pecahan dengan sudut tajam. Selain itu, retak kulit buayalebih banyak disebabkan oleh beban kendaraan yang berulang-ulang, yang dengan demikian kerusakan ini hanya terjadi pada jalur lalu-lintasan roda.
Faktor penyebab kerusakan
a. Perubahan volume campuran aspal yang mempunyai kadar agregat halus tinggi dari aspal penetrasi rendah dan agregat yang mudah menyerap (odsorptive aggregate).
b. Pengaruh siklus temperatur harian dan pengerasan aspal.
c. Sambungan dalam lapisan beton yang berada di bawahnya.
d. Retak akibat kelelahan (fatigue) dalam lapisan aus aspal.
Resiko lanjutan
a. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
b. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Lebar retak yang dominan.
b. Lebar sel yang dominan.
c. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
a. Retak dapat ditutup dengan larutan pengisi. Retak yang besar diisi dengan larutan emulsi aspal yang diikuti dengan penanganan permukaan atau larutan pengisi.
b. Pengkasaran dengan pemanas (heater scarify) dan lapis tambahan (overlay).
7. Retak kulit buaya (alligator cracks)
Retak kulit buaya adalah serangkaian retak memanjang paralel yang membentuk banyak sisi menyerupai kulit buaya dengan lebar celah lebih besar atau sama dengan 3 mm. Retak ini disebabkan oleh kelelahan akibat beban lalu-lintas berulang-ulang. Retak dimulai dari bagian bawah permukaan aspal (atau pondasi yang distabilisasi), di mana tegangan dan regangan tank sangat besar di bawah beban roda. Retak merambat ke permukaan, awalnya berupa suatu rangkaian retak-retak memanjang. Sesudah dibebani berulang-ulang, retak saling berhubungan satu sama lain. Pecahan-pecahan, umumnya berukuran kurang dari 0.6 ni pada nisi terpanjangnya. Retak kulit buaya terjadi hanya pada daerah yang dipengaruhi beban kendaraan secara berulang-ulang, seperti pada lintasan roda. Karena itu, retak ini tidak menyebar ke seluruh area perkerasan, kecuali jika pola lalu-lintasnya juga menyebar. Pada lokasi retak, mungkin diikuti atau tidak diikuti oleh penurunan, dan dapat terjadi di mana saja dalam area permukaan perkerasan. Kesulitan terbesar dalam mengukur retak kulit buaya adalah karena dua atau tiga tipe tingkat kerusakan sering muncul di dalam satu area rusak. Bila beda tingkat kerusakan tidak bisa dipisahkan, seluruh area harus diasumsikan mempunyai tingkat kerusakan tertinggi yang ada di lokasinya.
Faktor penyebab kerusakan
a. Defleksi berlebihan dari permukaan perkerasan.
b. Gerakan satu atau lebih lapisan yang berada di bawah.
c. Modulus dari material lapis pondasi rendah.
d. Lapis pondasi atau lapis aus terlalu getas.
e. Kelelahan (fatigue) dari permukaan.
f. Pelapukan permukaan, tanah-dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis permukaan kurang stabil.
g. Bahan lapis pondasi dalam keadaan jenuh air, karena air tanah naik.
Resiko lanjutan
a. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan laiu-lintas.
b. Retak meluas ke seluruh area perkerasan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Lebar retak yang dominan.
b. Lebar sel yang dominan.
c. Luas daerah kerusakan.
Pilihan cara perbaikan
a. Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
b. Jika tingkat kerusakan ringan, pemeliharaan sementara seperti menutup dengan larutan penutup (slurry seal) atau penanganan permukaan yang lain. Penambalan dapat membantu sebelum perbaikan permanen dilakukan. Penutupan retakan dengan pengisi tidak begitu efektif untuk perbaikan retak kulit buaya.
c. Lapisan tambahan.
8. Retak slip (slippage cracks) atau retak bentuk bulan sabit
Retak selip atau retak yang berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh gaya-gaya horizontal yang berasal dari kendaraan. Retak ini diakibatkan oleh kurangnya ikatan antara lapisan permukaan dengan lapisan dibawahnya,sehingga terjadi penggelineiran. Jarak retakan sering berdekatan dan berkelompok secara paralel. Retakan ini sering terjadi pada tempat-tempat kendaraan mengerem, yaitu pada saat turun dan bukit.
Faktor penyebab kerusakan
a. Kurangnya ikatan lapisan permukaan dengan lapisan dibawahnya. Hal ini dapat disebabkan oleh debu, minyak, karet, kotoran, air atau bahan lain yang tidak adhesif yang berada diantara lapis aus (wearing course) dan lapisan di bawahnya. Biasanya, buruknya ikatan terjadi akibat tidak digunakannya tack coat atau prime coat dengan lapisan tipis aspal pada agregat pondasi (base).
b. Campuran terlalu banyak kandungan pasimya
c. Pemadatan perkerasan kurang.
d. Tegangan sangat tinggi akibat pengereman dan percepatan kendaraan.
e. Lapis aus di permukaan terlalu tipis.
f. Modulus lapis pondasi (base) terlalu rendah.
Resiko lanjutan
a. Mengganggu kenyamanan dan keselamatan lalu-lintas.
b. Retak meluas ke seluruh area perkerasan
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Lebar retak yang dominan.
b. Luas daerah kerusakan.
Cara perbaikan
a. Membongkar lapisan aspal yang rusak, kemudian dilakukan penambalan permukaan.
9. Retak halus (hair cracking)
Retak halus (hair cracking) lebar celah lebih kecil atau sama dengan 3 mm, penyebab adalah bahan perkerasan yang kurang baik, tanah dasar atau bagian perkerasan di bawah lapis permukaan kurang stabil. Retak halus ini dapat meresapkan air ke dalam lapis permukaan. Untuk pemeliharaan dapat dipergunakan lapis latasir, atau buras. Dalam tahap perbaikan sebaiknya dilengkapi dengan perbaikan sistem drainase. Retak rambut dapat berkembang menjadi retak kulit buaya.
10. Retak susut (shrinkage cracks)
Retak susut (shrinkage cracks), retak yang saling bersambungan membentuk kotak-kotak besar dengan sudut tajam. Retak disebabkan oleh perubahan volume pada lapisan permukaan yang memakai aspal dengan penetrasi rendah, atau perubahan volume pada lapisan pondasi dan tanah dasar. Perbaikan dapat dilakukan dengan mengisi celah dengan campuran aspal cair dan pasir dan melapisi dengan burtu.
C. Kerusakan di Pinggir Perkerasan
Kerusakan di pinggir perkerasan adalah retak yang terjadi di sepanjang pertemuan antara permukaan perkerasan aspal dan bahu jalan, lebih-lebih bila bahu jalan tidak ditutup (unsealed). Kerusakan ini terjadi secara lokal atau bahkan bisa memanjang di sepanjang jalan, dan sering terjadi di salah satu bagian jalan, atau sudut. Mengacu pada AUSTROADS (1987), kerusakan di pinggir perkerasan aspal dapat dibedakan menjadi:
1. Retak pinggir (edge cracking)/pinggir pecah (Edge Breaks)
Retak tepi biasanya terjadi sejajar dengan tepi perkerasan dan berjarak sekitar 0,3-0,5 m dari tepi luar. Akibat pecah pinggir perkerasan,maka bagian ini menjadi tidak beraturan.
Faktor penyebab kerusakan
a. Kurangnya dukungan dari arah lateral (dari bahu jalan).
b. Drainase kurang baik.
c. Kembang susut tanah di sekitarnya.
d. Bahu jalan turun terhadap permukaan perkerasan.
e. Seal coat lemah, adhesi permukaan ke lapis pondasi (base)hilang.
f. Konsentrasi lalu-lintas berat di dekat pinggir perkerasan.
g. Adanya pohon-pohonan besar di dekat pinggir perkerasan.
Cara perbaikan
a. Perbaikan bergantung pada tingkat kerusakannya. Jika bahu jalan tidak mendukung pinggir perkerasan, maka material yang buruk dibongkar dan digantikan dengan material baik yang dipadatkan.
b. Jika air menjadi faktor penyebab kerusakan pecah, maka harus dibuatkan drainase.
c. Penutupan retakan/penutupan permukaan.
d. Penambalan parsial.
2. Jalur/Bahu turun (Lane/Shoulder Drop-Off)
Jalur/bahu jalan turun adalah beda elevasi antara pinggir perkerasan dan bahu jalan. Bahu jalan turun relatif terhadap pinggir perkerasan.Hal ini tidak dipertimbangkan penting bila selisih tinggi bahu dan perkerasan kurang dari 10 sampai 15 mm.
Faktor penyebab kerusakan
a. Lebar perkerasan kurang.
b. Bahu jalan dibangun dengan material yang kurang tahan terhadap erosi dan abrasi.
c. Penambahan lapis permukaan tanpa diikuti penambahan permukaan bahu jalan.
Cara perbaikan
a. Untuk beda tinggi yang rclatif kccil dan bahu jalan berupa aspal, maka campuran aspal panas (hot mix) dapat ditempatkanpada bagian yang elevasinya berbeda.
b. Untuk beda tinggi yang besar, bahu jalan hams ditinggikan dengan menghamparkan lapis tambahan (overlay).
c. Jika penyebabnya adalah drainase yang buruk, maka dibuatkan lagi drainase yang baik.
d. Jika bahu jalan tidak diperkeras, maka dibongkar dan material jelek diganti dengan material yang bagus dan dipadatkan.
D. Kerusakan Tekstur Permukaan
Kerusakan tekstur permukaan merupakan kehilangan material perkerasan secara berangsur-angsur dari lapisan pennukaan ke arah bawah. Perkerasan nampak seakan pecah menjadi bagian-bagian kecil, seperti pengelupasan akibat terbakar sinar matahari, atau mempunyai garis-garis goresan yang sejajar. Butiran lepas dapat terjadi di atas seluruh permukaan, dengan lokasi terburuk di jalur lalulintas. Beberapa kerusakan yang tidak diperbaiki, dapat mengakibatkan berkurangnya kualitas struktur perkerasan. Kerusakan tekstur permukaan aspal dapat dibedakan menjadi:
1. Pelapukan dan Butiran Lepas (Weathering and Raveling)
Pelapukan dan butiran lepas (raveling) adalah disinegrasi permukaan perkerasan aspal melalui pelepasan partikel agregat yang berkelanjutan, berawal dari permukaan perkerasan mentijil ke bawah atau dari pinggir ke dalam. Butiran agregat berangsur-angsur lepas dari permukaan perkerasan, akibat lemahnya pengikat antara partikel agregat. Biasanya, partikel halus dari agregat lepas lebih dulu, kemudian baru disusul partikel yang lebih nesar. Kerusakan ini biasanya terjadi pada lintasan roda. Lepasnya butiran, biasanya terjadi akibat beban lalu-lintas di musim hujan, yaitu ketika kekakuan bahan pengikat aspal tinggi (Whiteoak, 1991). Selain itu, lepasnya butiran juga dapat disebabkan oleh aksi abrasif dari ban kendaraan, khususnya di perempatan jalan dan tempat parkir (Lavin, 2003).
Faktor penyebab kerusakan
a. Campuran material aspal lapis permukaan kurang baik.
b. Melemahnya bahan pengikat dan/atau batuan.
c. Pemadatan kurang baik, karena dilakukan pada musim hujan.
d. Agrcgat hydrophilic (agregat mudah menyerap air).
Cara perbaikan
a. Perawatan permukaan dengan menggunakan chip .vcal atau slurry seal.
2. Kegemukan (Bleeding/Flushing)
Kegemukan adalah hasil dari aspal pengikat yang berlebihan, yang bermigrasi ke atas permukaan perkerasan. Kelebihan kadar aspal atau terlalu rendahnya kadar udara dalam campuran, dapat mengakibatkan kegemukan. Kegemukan juga menyebabkan tenggelamnya agregat (parsial maupun keseluruhan) ke dalam pengikat aspal yang menyebabkan berkurangnya kontak antara ban kendaraan dan batuan. Kerusakan ini menyebabkan permukaan jalan menjadi licin. Pada temperatur tinggi, aspal menjadi lunak dan akan terjadi jejak roda.
Faktor penyebab kerusakan
a. Pemakaian kadar aspal yang tinggi pada campuran aspal.
b. Kadar udara dalam campuran aspal terlalu rendah.
c. Pemakaian terlalu banyak aspal pada pekerjaan prune coat atau tack coat.
d. Pada tambiilan, terlalu banyaknya aspal di bawah permukaan tambalan.
e. Aeregat terpenetrasi ke dalam lapis pondasi, sehingga lapis pondasi menjadi lemah.
Cara perbaikan
a. Pemberian pasir panas atau batu caring panas untuk mengimbangi kelebihan aspal.
b. Jika kegemukan ringan, perawatan dilakukan dengan agregat seal coat, dengan menggunakan agregat yang mudah menyerap.
3. Agregat licin / Aus (polished aggregate)
Agregat licin adalah licinnya permukaan bagian alas perkerasan, akibat ausnya agregat di permukaan, Kecenderungan perkerasan menjadi licin dipengaruhi oleh sifat-sifat geologi dari agregat. Akibat pelicinan agregat oleh lalu lintas, aspal pengikat akan hilang dan permukaan jalan menjadi iicin, terutama sesudah hujan, sehingga membahayakan kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan
a. Agregat kasar di permukaan beton tidak tahan aus, berbentuk bulat dan licin, tidak berbentuk kubikal. Beberapa agregat, khususnya batu gamping. menjadi halus oleh pengaruh lalu-lintas.
b. Beberapa macam kerikil yang secara alarmi permukaannya halus, jika digunakan untuk permukaan perkerasan tanpa memecahnya, maka akan menyebabkan gangguan kekesatan permukaan jalan. Agregat halus ini menjadi licin bila basah oleh air hujan.
Cara perbaikan
a. Pelapisan ulang (overlay) tipis.
b. Membersihkan bahan-bahan yang bisa membuat aus agregat dilapisan permukaan
c. Penghamparan lapis tambahan (overlay).
4. Stripping
Stripping adalah suatu kondisi hilangnya agregat kasar dari bahan penutup yang disemprotkan, yang menyebabkan bahan pengikat dalam kontak Iangsung dengan ban. Pada saat musim panas, aspal dapat tercabut dan melekat pada ban kendaraan.
Faktor penyebab kerusakan
a. Kandungan pengikat terlalu sedikit.
b. Pengikat tidak mengikat batuan dengan baik (kotor, Agregrat hydrophylic, batuan basah).
c. Penyerapan pengikat.
d. Kerusakan/ausnya batuan.
e. Pencampuran pengikat kurang baik.
f. Pemadatan kurang.
Cara perbaikan
a. Penghamparan lapis tambahan (overlay) tipis.
E. Lubang (Potholes)
Lubang adalah lekukan permukaan perkerasan akibat hilangnya lapisan aus dart material lapis pondasi (base). Kerusakan berbentuk lubang kecil biasanya berdiameter kurang dari 0.9 m dan berbentuk mangkuk yang dapat berhubungan atau tidak berhubungan dengan kerusakan permukaan lainnya. Lubang bisa terjadi akibat galian utilitas atau tambalan di area perkerasan yang telah ada. Lubang, umumnya mempunyai tepi yang tajam dan mendekati vertikal. Lubang ini terjadi ketika beban lalu-lintas menggerus bagian-bagian kecil dari permukaan perkerasan, sehingga air bisa masuk. Air yang masuk kc dalam lubang dan lapis pondasi ini mempercepat kerusakan jalan. Jika lubang pada perkerasan diciptakan oleh akibat retak kulit buaya yang sangat parah, maka kerusakan ini harus diidentifikasikan sebagai kerusakan lubang (pothole) dan bukan kerusakan tipe pelapukan(weathering) (Shahin,1994).
Faktor penyebab kerusakan
a. Campuran material lapis permukaan yang kurang baik.
b. Air masuk ke dalam lapis pondasi lewat retakan di permukaan perkerasan yang tidak segera ditutup.
c. Beban lalu-lintas yang mengakibatkan disintegrasi lapis pondasi.
d. Tercabutnya aspal pada lapisan aus akibat melekat pada ban kendaraan.
Cara perbaikan
a. Perbaikan permanen dilakukan dengan penambalan diseluruh kedalaman.
b. Perbaikan sementara dilakukan dengan membersihkan lubang dan mengisinya dengan campuran aspal dingin yang khusus untuk tambalan
F. Tambalan dan galian utilitas (patching and utility cut patching)
Tambalan (patch) adalah penutupan bagian perkerasan yang mengalami perbaikan. Kerusakan tambalan dapat diikuti/tidak diikuti oleh hilangnya kenyamanan kendaraan (kegagalan fungsional) atau rusaknya struktur perkerasan. Rusaknya tambalan menimbulkan distorsi, disintegrasi, retak atau terkelupas antara tambalan dan permukaan perkerasan asli. Kerusakan tambalan dapat terjadi karena permukaan yang menojol atau ambles terhadap permukaan permukaan perkerasan. Jika kerusakan terjadi pada tambalan maka kerusakan tersebut belum tentu disebabkan oleh lapisan yang utuh.
Faktor penyebab kerusakan
a. Amblesnya tambalan umumnya disebabkan oleh kurangnya pemadatan material urugan lapis pondasi (base) atau tambalan material aspal.
b. Cara pemasangan material bawah buruk.
c. Kegagalan dari perkerasan di bawah tambalan dan sekitarnya.
Cara perbaikan
a. Perbaikan atau penggantian tambalan di seluruh kedalaman untuk perbaikan permanen.
b. Dilakukan penambalan permukaan untuk perbaikan sementara.
G. Persilangan jalan rel (railroad crossing)
Kerusakan pada persilangan jalan rel dapat berupa ambles atau benjolan di sekitar dan/atau antara lintasan rel.
Faktor penyebab kerusakan
a. Amblesnya perkerasan, sehingga timbul beda elevasi antara permukaan perkerasan dengan permukaan rel.
b. Pelaksaaan pekerjaan perkerasan atau pemasangan jalan rel yang buruk.
Resiko lanjutan
a. Mengganggu kenyamanan kendaraan.
Data yang diperlukan untuk perbaikan
a. Luas dari persilangan diukur. Sembarang tonjolan besar yang diakibatkan oleh lintasan rel harus dianggap sebagai bagian dari persilangan.
Cara perbaikan
a. Penambalan parsial atau di seluruh kedalaman.
b. Rekonstruksi persilangan jalan rel.
H. Erosi Jet Blast (Jet Blast Erosion)
Erosi jet blast adalah kerusakan perkerasan beton aspal pada bandara. Kerusakan ini menyebabkan area permukaan aspal menjadi gelap, ketika pengikat aspal telah terbakar atau terkarbonisasi. Area terbakar lokal mempunyai kedalaman yang bervariasi sampai sekitar ½ in (12.7 mm) (Shahin, 1994). Erosi jet blast diukur dalam satuan luas, feet persegi atau meter persegi.
I. Tumpahan Minyak (Oil Spillage)
Tumpahan minyak adalah kerusakan atau pelunakan permukaan perkerasan aspal di bandara yang disebabkan oleh tumpahan minyak, pelumas, atau cairan yang lain. Tipe kerusakan seperti ini, terutama tcrjadi pada perkerasan beton aspal di bandara. Kerusakan diukur dalam satuan luas, feet persegi atau meter persegi.
J. Konsolidasi atau Gerakan Tanah Pondasi
Penurunan konsolidasi tanah di bawah timbunan menyebabkan distrorsi perkerasan. Perkerasan lentur yang dibangun di atas kotoran atau tanah gambut, akan memunculkan area yang ambles. Kegagalan urugan juga menyebabkan retak yang berbentuk setengah lingkaran di permukaan perkerasan. Retak yang biasanya berbentuk setengah lingkaran, ataupola memanjang pada perkerasan yang berada di atas timbunan harus diselidiki kemungkinan adanya ketidakstabilan lereng. Gerakan akibat mampatnya lapisan tanah lunak, tidak dipengaruhi oleh tebal lapis pondasi (base) atau perkerasan. Gerakan ini ditandai dengan gerakan turun perlahan. Kerusakan semacam ini dapat diperbaiki dengan meletakkan lapisan perata, sehingga kualitas kerataan perkerasan dapat dikembalikan ke kondisinya semula.
Kerusakan jalan bisa disebabkan oleh banyak faktor. Bisa faktor internal maupun faktor eksternal.
a. Faktor internal diantaranya:
· Desain yang kurang tepat
· Bahan dan Material di lokasi yang belum memenuhi standar. Dalam hal ini dapat disebabkan oleh sifat material itu sendiri atau dapat pula disebabkan oleh sistem pengolahan bahan yang tidak baik
· Waktu Pelaksanaan yang kurang/terburu-buru
· Pelaksanaan yang kurang menjaga mutu
b. Faktor eksternal diantaranya:
· Kondisi tanah dasar yang tidak stabil. Kemungkinan disebabkan oleh sistem pelaksanaan yang kurang baik, atau dapat juga disebabkan oleh sifat tanah dasarnya yang memang jelek.
· Air yang berada di jalan, bisa di dalam tanah dan perkerasan maupun di atas perkerasan aspal seperti banjir dan genangan. Air, yang dapat berasal dari air hujan, sistem drainase jalan yang tidak baik, naiknya air akibat sifat kapilaritas
· Lalu lintas, yang dapat berupa peningkatan beban dan repetisi beban. Kelebihan beban atau bahasa kerennya overload.
· Iklim, Indonesia beriklim tropis dimana suhu udara dan curah hujan umumnya tinggi, yang dapat merupakan salah satu penyebab kerusakan jalan.
· Proses pemadatan lapisan di atas tanah dasar yang kurang baik
Dalam mengevaluasi kerusakan jalan perlu ditentukan :
a) Jenis kerusakan (distress type) dan penyebabnya
b) Tingkat kerusakan (distress severity)
c) Jumlah kerusakan (distress amount)
Hal-hal yang pelu diperhatikan untuk menjaga konstruksi jalan yang terbangun tetap baik:
a. Perlu adanya sosialisasi kepada pengguna jalan tentang korelasi beban muatan kendaraan dengan faktor penyebab kerusakan jalan.
b. Perlu adanya kesadaran dan kerjasama antara Dinas Perhubungan dengan Dinas Pekerjaan Umum dalam mengendalikan pelanggaran terkait kelebihan muatan kendaraan yang melintasi suatu ruas jalan.
c. Perlu kesadaran bagi pemangku kebijakan akan pentingnya kegiatan pemeliharaan jalan secara berkala, sehingga tidak menunggu jalan tersebut rusak parah baru dianggarkan, pemeliharaan jalan jauh lebih ekonomis dari pada memperbaiki jalan yang sudah rusak parah.
2.4 Pavement Condition Index (PCI)
Pavement Condition Index (PCI) adalah sistem penilaian kondisi perkerasan jalan berdasarkan jenis, tingkat dan luas kerusakan yang terjadi dan dapat digunakan sebagai acuan dalam usaha pemeliharaan (Christady, 2008). Nilai PCI ini memiliki rentang 0-100 dengan kriteria 0-10 (gagal), 10-25 (sangat buruk), 25-40 (buruk), 40-55 (sedang), 55-70 (baik), 70-85 (sangat baik) dan 85-100 (sempurna). Tingkat kerusakan terdiri dari low severity level (L), medium severity level (M) dan high severity level (H).
a) Kadar kerusakan (density)
Kadar kerusakan merupakan persentase luasan dari suatu jenis kerusakan terhadap luasan suatu unit segmen.
(1)
Atau :
(2)
Keterangan:
Ad = luas total jenis kerusakan untuk tiap tingkat kerusakan (m2)
Ld = panjang total jenis kerusakan untuk tiap tingkat kerusakan (m)
As = luas total unit sampel (m2)
b) Nilai pengurangan (deduct value)
Deduct value adalah nilai pengurangan untuk tiap jenis kerusakan yang diperoleh dari kurva hubungan antara density dan deduct value.
c) Total deduct value (TDV)
TDV adalah nilai total dari individual deduct value untuk tiap jenis kerusakan dan tingkat kerusakan yang ada pada suatu unit sampel.
d) Nilai alowable maximum deduct value (m)
Sebelum ditentukan nilai TDV dan CDV, nilai deduct value perlu dicek untuk mengetahui apakah nilai tersebut dapat digunakan dalam perhitungan selanjutnya. Nilai m dapat dihitung menggunakan persamaan :
(3)
Keterangan :
m = nilai koreksi untuk deduct value
HDVi = nilai terbesar deduct value dalam satu unit sampel
e) Corrected deduct value (CDV)
Diperoleh dari kurva hubungan antara nilai TDV dengan nilai CDV dengan pemilihan lengkung kurva sesuai dengan jumlah deduct value yang mempunyai nilai lebih besar dari 2 (disebut juga dengan nilai q). Jika nilai CDV diketahui, maka nilai PCI untuk tiap unit sampel dapat dihitung menggunkan persamaan :
(4)
Keterangan :
PCI(s) = nilai kondisi untuk tiap unit sampel
CDVmaks = nilai CDV terbesar untuk tiap unit sampel
untuk nilai PCI secara keseluruhan :
(5)
Keterangan :
PCI = nilai kondisi perkerasan secara keseluruhan
N = jumlah data
Komentar
Posting Komentar